KISAH PERJALANAN NABI SAW

Kisah Perjalanan Hidup Nabi Muhammad (SAW)

Nabi Muhammad (SAW) yang bernama lengkap Muhammad bin Abdullah dilahirkan di bulan Rabiul Awal pada 570 Masehi (M) di Semenanjung Arab. Nabi Muhammad (SAW) telah menjadi anak yatim sejak sebelum dilahirkan karena sang ayah, Abdullah bin Abdul Muttalib, telah meninggal sejak ia masih berada di dalam kandungan.

Di usia enam tahun, ibunda Nabi Muhammad (SAW), Aminah binti Wahab, meninggal dunia. Ia kemudian diasuh dan dibesarkan oleh kakeknya yang bernama Abd al-Muttalib. Setelah kakeknya meninggal, Nabi Muhammad (SAW) dibesarkan oleh sang paman, Abu Talib.

Lahir di keluarga pedagang, Nabi Muhammad (SAW) menghabiskan masa kecilnya dengan hidup secara nomaden. Ia ikut dalam rombongan karavan di jalur utama perdagangan Arab kala itu yang melalui Mekah. Pada 582 M, Nabi Muhammad (SAW) berkunjung ke Siria bersama dengan pamannya, Abu Thalib. Di sana ia bertemu dengan Bahira, seorang biksu yang melihat pertanda dalam diri Muhammad muda, bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi seorang nabi yang hebat.

Beberapa tahun kemudian saat menginjak usia remaja, Nabi Muhammad (SAW) sudah bisa berdagang sendiri. Karena terkenal dengan kejujurannya, orang-orang memanggilnya al-Amin, yang berarti “yang terpercaya”. Di usia dua puluhan tahun, Nabi Muhammad (SAW) bekerja sebagai pedagan karavan untuk seorang janda yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Ia bernama Khadijah. Saat Nabi Muhammad (SAW) berusia 25 tahun, Khadijah melamarnya. Mereka akhirnya menikah pada 595 M, dan bersama-sama menjalani hidup sebagai pedagang yang sukses dan kaya raya.

Turunnya Wahyu Pertama

Sebagai seorang pedagang yang sukses, Nabi Muhammad (SAW) memiliki kebiasaan unik. Ia seringkali mengasingkan diri di gunung untuk meditasi dan berdoa meminta petunjuk religius. Suatu malam di tahun 610 M, saat sedang berbaring di dalam gua Hira yang berada di gunung dekat Mekah, malaikat Jibril mendatanginya. Nabi Muhammad (SAW) mendengar suara yang memerintahnya untuk mengucapkan ayat-ayat yang kemudian akan ada di dalam Quran:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-’Alaq 96:1-5)

Setelah menerima wahyu pertamanya, Nabi Muhammad (SAW) merasa tertekan. Ia bergegas meninggalkan gua dan pulang ke rumah untuk menceritakannya kepada Khadijah. Ia merasa bingung dan takut karena menyadari bahwa ini adalah suatu tanggung jawab yang sangat besar. Nabi Muhammad (SAW) tidak yakin dirinya bisa menanggung semua ini. Namun Khadijah menenangkan dirinya. Wahyu pertama ini menandai awal dari perjalanan kenabian Rasulullah. Khadijah pun menjadi orang pertama yang menganut agama baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad (SAW), yang kemudian dinamakan sebagai Islam.

Mulai Berdakwah

Sekitar tahun 613 M, Nabi Muhammad (SAW) mulai menyampaikan keyakinannya dan ayat-ayat dari wahyu yang diterimanya. Ia mulai berdakwah tentang Islam untuk kalangan tertutup selama tiga tahun, baru kemudian mulai berdakwah untuk publik di Mekah. Awalnya, ajaran Nabi Muhammad (SAW) dianggap remeh dan tidak dipedulikan. Ia dilawan oleh kalangan oposisi yang juga sedang berkembang, terutama karena ajarannya bertentangan dengan tradisi menyembah berhala saat itu.

Kendati demikian, seiring pengaruh Nabi Muhammad (SAW) mulai berkembang, ia juga mulai menarik sejumlah kecil pengikut yang angkanya terus bertambah. Nabi Muhammad (SAW) dan para pengikutnya juga mengalami persekusi berat saat itu. Penduduk Mekah bahkan menyiksa dan membunuh para pengikut Rasulullah dan berhasil mengusir mereka keluar dari Mekah. Enam tahun setelah dakwah perdana Nabi Muhammad (SAW), Khadijah sang istri tercinta pun meninggal dunia.

Hijrah dan Pertempuran

Pada 622 M, Nabi Muhammad (SAW) dan para pendukungnya meninggalkan Mekah dan bermingrasi ke Yathrib untuk melarikan diri dari para penyembah berhala dan orang-orang musyrik. Momen ini dinamakan sebagai hijrah dan menandai awal mula kalendar Islam (Hijriyah) dan Yathrib kemudian dikenal sebagai Madinah. Seiring Nabi Muhammad (SAW) membesarkan komunitas Islam di Yathrib dan sekitarnya, masyarakat Mekah tidak dengan mudah menerima kesuksesan Rasulullah. Ini menyebabkan pecahnya pertempuran besar selama tiga tahun berikutnya. Pertempuran pertama adalah Perang Badar, lalu Perang Uhud, dan yang ketiga adalah Perang Khandaq.

Setelah pertempuran terakhir selesai, Islam berkembang pesat karena semakin banyak orang yang menganutnya. Pada 628 M, Nabi Muhammad (SAW) bertemu dengan para pemimpin Mekah dan membuat perjanjian. Perjanjian ini dikenal sebagai Perjanjian Hudaibiyah yang dibuat untuk mengakhiri pertikaian dan mengizinkan masyarakat Muslim di Madinah menunaikan ibadah haji di Mekah.

Namun dua tahun kemudian, Mekah melanggar perjanjian. Nabi Muhammad (SAW) kemudian membawa sekitar 10.000 pasukan menuju Mekah. Mereka berhasil memasuki dan menduduki Mekah tanpa ada pertumpahan darah dan masyarakat Mekah yang memusuhi Nabi Muhammad (SAW) diampuni olehnya.

Kaaba in Mecca Saudi Arabia

Setelah menaklukkan Mekah, dalam beberapa tahun kemudian Nabi Muhammad (SAW) mempersatukan Arab menjadi negara Islam. Kabah menjadi tempat ibadah agama Islam dan hingga kini menjadi titik pusat tempat umat Muslim menunaikan ibadah haji di Mekah.

Pada 632 M, Nabi Muhammad (SAW) menunaikan ibadah haji terakhir kalinya ke Mekah, lalu kembali ke Madinah. Tiga bulan kemudian, pada 8 Juni, Nabi Muhammad (SAW) meninggal dunia setelah tidak lama mengalami kondisi sakit. Nabi Muhammad (SAW) dimakamkan di Masjid Nabawi, salah satu dari banyak masjid yang dibangun olehnya di Madinah.

5 thoughts on “KISAH PERJALANAN NABI SAW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *