DIKEPUNG BANJIR SELAMA 3 HARI MOJOKERTO DAN JOMBANG

Kesedihan Ribuan Warga Mojokerto dan Jombang Dikepung Banjir Sejak 3 Hari

 

Berita Indonesia.com,-Mojokerto -6/01/2020 Banjir dampak meluapnya Sungai Avur Watudakon yang merendam 3 desa di Jombang dan Mojokerto, tak kunjung surut sejak 3 hari lalu. Akibatnya, ribuan penduduk di tiga desa harus menderita hidup di tengah kepungan banjir.

Di Kabupaten Mojokerto, banjir akibat meluapnya Avur Watudakon merendam Dusun Tempuran dan Dusun Bekucuk di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko. Hingga pukul 13.30 WIB, ketinggian air di jalan mencapai lutut orang dewasa. Sedangkan banjir di dalam rumah-rumah penduduk mencapai 10-40 cm.

“Banjirnya sejak Senin (3/2) malam sampai sekarang belum surut, sudah 3 hari,” kata Ahmad (53), warga Dusun/Desa Tempuran¬† di rumahnya, Rabu (5/2/2020).

Selama 3 hari dikepung banjir, Ahmad bersama istri dan 3 anaknya memilih bertahan di rumah untuk menjaga harta benda. Karena dia khawatir ketinggian air setiap saat meningkat sehingga menenggelamkan harta benda miliknya.

Akibatnya, Ahmad tidak bisa mencari nafkah selama tiga hari terkahir. Untuk bertahan hidup, dia mengandalkan kiriman nasi bungkus dari dapur umum yang datang hanya pagi dan sore.

salah satu Relawan Anggota Rapi melayani Para Korban Banjir

Sementara untuk minum, dia harus membeli air isi ulang. Karena bantuan air bersih dari Pemkab Mojokerto hanya dia gunakan untuk mandi bersama keluarganya.

“Istri sakit gatal-gatal di kakinya. Belum dapat obat. Saya belum tanya soal posko kesehatan. Tidak ada yang memberi tahu juga kalau ada posko kesehatan,” ungkapnya.

Penderitaan yang sama dikeluhkan Arief (56), warga Dusun Tempuran. Selama tiga hari terendam banjir setinggi 40 cm, rumahnya menjadi kotor dan berbau tidak sedap. Bersama istri dan satu anaknya, dia juga memilih tidak mengungsi untuk menjaga harta benda.

“Selama tiga hari saya tidak bisa kerja. Rumah menjadi kumuh dan bau,” ujar petani tebu ini.

Koordinator Input Data Pemerintah Desa Tempuran Rahmanto Hidayat menjelaskan, ratusan rumah penduduk yang saat ini terendam banjir akibat meluapnya Avur Watudakon. Tercatat 896 jiwa warga Desa Tempuran yang harus merasakan dampak banjir selama 3 hari ini. Terdiri dari 687 jiwa di Dusun Bekucuk dan 209 jiwa di Dusun Tempuran.

“Kondisi banjir paling parah di RT 1, 2 dan 3 Dusun Bekucuk. Air masuk rumah warga mencapai 40 cm,” jelasnya.

Hidayat menambahkan, sudah banyak warga korban banjir yang mengungsi. Hanya saja dia tidak mencatat jumlah pengungsi. Karena mereka mengungsi ke rumah keluarga dan kerabat yang tidak terkena banjir.

“Tidak ada pengungsi yang ke posko. Semua yang mengungsi memilih ke rumah keluarganya,” cetusnya.

Banjir di Desa Tempuran juga melumpuhkan aktivitas pemerintahan desa dan pendidikan. Karena kantor desa, TK Negeri Pembina II Tempuran dan SDN Tempuran saat ini terendam banjir setinggi 50 cm. Sehingga anak-anak di kampung ini tidak bisa sekolah.

Pemkab Mojokerto telah mendirikan dapur umum, posko kesehatan, posko BPBD dan mobil MCK di Dusun Tempuran. Sejumlah perahu karet disiapkan untuk membantu evakuasi warga dan mengirim makanan. Selain itu, sejumlah truk tangki didatangkan untuk menyuplai air bersih ke para korban banjir.

Sementara di Kabupaten Jombang, banjir akibat luapan Avur Watudakon merendam 2 desa di Kecamatan Kesamben. Supervisor Pusdalops BPBD Kabupaten Jombang Stevie Maria atau Peppy menuturkan, banjir siang ini merendam 260 rumah di Dusun Beluk, Desa Jombok dan 120 rumah di Dusun Kedondong, Desa Blimbing.

Mirip dengan di Mojokerto, para korban banjir di Kesamben memilih bertahan di rumah masing-masing. Menurut Peppy, sampai siang ini baru 4 lansia yang dievakuasi dari kepungan banjir.

“Kami sudah membuka dapur umum dan distribusi air bersih ke para korban banjir,” tandasnya.sampai hari ini berita diterbitkan banjir berangsur2 surut sampai 15 cm.(bio TV/bamz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *